Addin menggambarkan ibundanya sebagai sosok yang sabar, penyayang, dan dermawan.
Kehilangan ibunda meninggalkan luka mendalam di hati Addin dan keluarganya.
Kedekatan Addin dan ibundanya begitu erat, seperti dua jiwa yang menyatu.
"Apabila sekolah selalu berangkat bersama ibunya. Ke mana-mana juga sama ibunya. Dia itu seperti penjaga ibunya," tutur sang ayah, Mahrizal Idris, yang terharu melihat betapa tulusnya Addin menyayangi ibundanya.
Kini, di Mekah, Addin seolah merasakan kehadiran ibunda di sisinya, membimbing setiap langkahnya dalam menjalankan ibadah.
Sebuah Pengorbanan yang Bermakna
Awalnya, adik Addin yang ingin menggantikan ibunda, namun karena usianya belum cukup, maka Addinlah yang terpilih.
Ini bukan sekadar penggantian kuota haji, melainkan pengorbanan dan cinta yang begitu tulus.
Pemuda murah murah senyum ini meninggalkan kesedihannya demi menjalankan amanah untuk ibunya.
Ia memahami betapa besar keinginan ibundanya untuk menunaikan ibadah haji, dan kini ia hadir di Makkah untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Ini adalah kisah inspiratif tentang pengorbanan, keikhlasan, dan cinta yang tak ternilai harganya.
Baca Juga: Cek Jadwal Pengumuman Hasil Seleksi PPPK Tahap 2 di Pemkot Pekanbaru
Pelajaran Berharga dari Kisah Addin
Kisah Addin bukan sekadar kisah pribadi, tetapi juga sebuah pelajaran berharga bagi kita semua.