KLIK PENDIDIKAN - Udara Kota Mekah, Arab Saudi yang terasa hangat seakan menyimpan jutaan kisah.
Di antara jutaan jemaah haji yang memenuhi tanah suci, ada satu sosok yang mencuri perhatian.
Muhammad Addin Imtiyas, seorang pemuda berusia 18 tahun sebagai jemaah haji termuda Indonesia asal Nangroe Aceh Darussalam.
Ia bukanlah jemaah haji biasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan kisah haru yang menggetarkan hati, sebuah bukti cinta seorang anak yang begitu tulus untuk ibundanya.
Kisah Addin adalah bukti bahwa cinta mampu melampaui batas waktu dan ruang, bahkan hingga ke Baitullah.
Bayangan Ibunda di Tanah Suci
Di tengah hiruk-pikuk ibadah haji, Addin kerap terdiam, matanya menerawang ke hamparan langit Mekah.
Bayangan ibundanya yang telah wafat 1,5 tahun silam selalu hadir dalam setiap langkahnya.
Ibunda, yang telah merencanakan ibadah haji sejak 2012, tak pernah merasakan langsung berdiri di hadapan Kabah.
Cita-cita itu kini digantikan oleh Addin, putra tercintanya, yang dengan ikhlas dan penuh haru menjalankan ibadah haji untuk menggantikan almarhumah.
"Perasaan saya senang, tapi sedih, karena seharusnya ibu yang mendampingi ayah berhaji," katanya sambil menitikkan air mata dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Cinta yang Tak Terbatas