Di sini boleh ngomong galak. Bambang Pacul ditelepon Ibu, "Pacul berhenti!", Siap. Laksanakan!, ya laksanakan Pak. Jadi, dua presiden pernah nanya sama saya.
Pembatasan uang kartal, sama RUU ini yang mana ya. Pak presiden kalau pembatasan uang kartal, pasti DPR ini nangis semua, kenapa?.
Masak dia bagi duit harus pakai E-wallet isinya cuma 20 juta lagi, enggak bisa Pak, Nanti mereka nggak jadi lagi.
Oh iya. Loh, saya terang-terangan ini, gitu loh.
Mungkin perampasan aset bisa, tetapi harus bicara dengan para Ketum partai dulu.
Kalau di sini, nggak bisa pak, nggak bisa, teori saja, jadi permintaan jenengan langsung saya jawab, Bambang Pacul siap kalau diperintah Juragan.
Mana berani, nggak berani Pak, sama toh? Ah.. Iyo, itu kira-kira Pak Mahfud.'
Ucapannya yang blak-blakan tanpa beban menjadikan netizen suka, meskipun ada saja yang tak suka. Namun ini jadi bukti bahwa demokrasi sudah berubah jadi demo-crazy.***