"Dari hasil data yang ada, Indonesia (masuk) peringkat ketiga dunia yang warganya merokok. Yang pertama kalau nggak salah Cina, kedua India, dan ketiga adalah Indonesia. Maka dari itu kita bersama-sama dengan seluruh lapisan, kami Pemprov DKI Jakarta dan orang tua harus mencegah agar tidak merokok," ujar Heru di Auditorium Gedung PKK Melati, Ragunan, Jakarta Selatan.
Oleh karena itu secara lebih khusus, Heru turut mengajak para orang tua untuk mendidik anaknya. Menurutnya orang tua mempunyai peranan penting untuk mengawasi agar anak tidak terjerumus dalam perilaku negatif yang berawal dari kebiasaan kurang baik, seperti merokok.
“Beban kita sebagai orang tua sepertinya lebih berat. Karena rokok elektrik itu lebih berbahaya. Menurut saya lebih rentan untuk dimasukkan cairan-cairan yang memang tidak patut digunakan,” ujarnya.
Di samping itu, Heru menjelaskan DKI Jakarta memiliki anggaran sebesar Rp18,2 triliun untuk menjaga, membina, dan meningkatkan taraf hidup warga melalui social safety net.
Dana yang dikeluarkan,lanjutnya salah satunya untuk alokasi Kartu Jakarta Pintar bagi pelajar yang kurang mampu, yang kini tercatat sebanyak 19 ribu warga telah merasakan manfaatnya.
Sementara itu, Pj Ketua TP PKK Provinsi DKI Jakarta, Mirdyanti turut menuturkan acara tersebut dilakukan untuk menambah wawasan para remaja, terutama pelajar, akan bahaya penyalahgunaan narkoba, serta membentuk generasi muda Jakarta yang arif dan bijaksana dalam menyongsong masa depan.
"Mereka diharapkan mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan," ujarnya.***