KLIK PENDIDIKAN - AICIS adalah wadah bertukar pikiran, berdialog, dan mendesimisnasikan hasil riset para scholars atau akademisi PTKI (Perguruan Tinggi Agama Islam) beserta international scholars.
AICIS atau Annual International Conference on Islamic Studies juga merupakan upaya bersama untuk terus mengembangkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, menajamkan intelektualitas dan memberikan kontribusi yang nyata kepada bangsa, agama, dan kemanusiaan.
AICIS 2024 ini merupakan kegiatan ke -23 digelar. Ajang tahunan ini digelar Ditjen Pendidikan Islam Kementerian dan akan berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, 1 – 4 Februari 2024.
Para akademisi Indonesia dan sejumlah negara akan bertemu di Semarang tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo.
Selain akademisi, para tokoh agama juga hadir yang berasal dari sejumlah negara.
Para akademisi akan berdiskusi tentang beragam persoalan kontemporer dalam bingkai tema ‘Redefining The Roles of Religion in Addressing Human Crisis: Encountering Peace, Justice, and Human Rights Issues’.
“AICIS kali ini bertujuan untuk mendefinisikan kembali peran agama, terutama Islam, dalam menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer di kancah global,” terang Staf Khusus Menag bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo di Jakarta, Senin 29 Januari 2024.
“Termasuk peran dalam menguatkan persaudaraan kemanusiaan. Gelaran AICIS bertepatan dengan momentum Hari Internasional Persaudaraan Manusia yang ditetapkan PBB sejak 2020 untuk diperingati setiap 4 Februari,” sambungnya.
Pada AICIS tahun ini , Wibowo memaparkan ada tujuh isu atau sub tema yang akan dibahas, yaitu :
- Agama, Nasionalisme, dan Kewarganegaraan di Asia Tenggara;
- Dampak Isu dan Ketegangan Keagamaan Internasional terhadap Nasionalisme, Kewarganegaraan, dan Hak Asasi Manusia;
- Krisis Kesetaraan, Keadilan, dan Kemanusiaan;
- Ketegangan Agama dan Kemanusiaan Global;
- Isu Gender, Spiritualitas, dan Minoritas;
- Fiqih Siyasah tentang Perang dan Damai: Pasca Kolonial; dan
- Kebijakan berbasis Maslahah Mursalah, Kesetaraan, dan Pemberdayaan.
“Isu besarnya adalah peran agama dalam menguatkan nasionalisme, merespons krisis keadilan dan kesetaraan, masalah gender, serta kemaslahatan umat, termasuk yang berkenaan dengan krisis iklim,” jelas Wibowo.***