AI Indonesia Diprediksi Tambah 3,67 Persen PDB, Pemerintah Percepat Adopsi di Sektor Kesehatan dan Industri

photo author
Dadang Ferdian Zaenal Arif, Klik Pendidikan
- Selasa, 21 April 2026 | 07:24 WIB
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan paparan mengenai potensi kecerdasan buatan dalam forum teknologi nasional di Bali (youtube/@KemkomdigiTV)
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan paparan mengenai potensi kecerdasan buatan dalam forum teknologi nasional di Bali (youtube/@KemkomdigiTV)

KLIK PENDIDIKAN - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI Indonesia diperkirakan mampu menambah kontribusi hingga 3,67 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Potensi muncul seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan produktivitas di berbagai sektor ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid saat menghadiri forum The Power of AI di Bali, Sabtu (18/4/2026). Di dalam forum tersebut, isu pemanfaatan AI menjadi topik utama yang banyak dibahas, terutama terkait dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Meutya Hafid menegaskan, daya saing saat ini tidak lagi semata bergantung pada ketersediaan sumber daya alam.

Baca Juga: CyberHeroes Telkom Latih 420 Siswa Indonesia Tingkatkan Keamanan Siber di Era Digital

“Daya saing hari ini tidak lagi ditentukan oleh sumber daya, tetapi oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi, terutama AI,” ujar Meutya.

Di tengah percepatan digitalisasi global, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut. Ekosistem digital Indonesia terus tumbuh.

Pertumbuhan ekonomi digital juga berlangsung cepat. Kondisi ini menjadi modal penting untuk memperluas penggunaan teknologi berbasis data.

“Nilai kini bergeser, bukan lagi soal sumber daya, tetapi kemampuan kita mengelola data menjadi solusi,” jelas Meutya.

Baca Juga: Bug Bounty 2026 Kemendikdasmen Dibuka, Pendaftaran Hingga 30 April Pukul 18.00 WIB

Mengacu pada data Bank Dunia, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-41 dari 198 negara dalam transformasi digital publik dan masuk dalam Kategori A. Posisi itu memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu pemain utama ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.

Faktanya, tidak semua sektor bergerak dengan kecepatan yang sama. Berdasarkan catatan pemerintah, sektor keuangan dan ritel telah lebih dulu memanfaatkan teknologi AI, sementara sektor lain masih membutuhkan percepatan adopsi.

Meutya Hafid menegaskan, “Kesehatan, pertanian, dan manufaktur harus dipercepat karena di sanalah dampak terbesar bisa kita ciptakan.”

Baca Juga: PP Tunas Berlaku - Indonesia Pimpin Regulasi Anak Digital, Malaysia dan Singapura Mulai Mengejar

Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat, pemerintah juga menekankan pentingnya tata kelola yang jelas agar pemanfaatan AI tetap aman dan bertanggung jawab.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Rasya KP

Sumber: komdigi.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X