Menagih Janji Keadilan di Atas Tanah Air: Reforma Agraria Kita Kok Setengah Hati?

photo author
Safrudin KP, Klik Pendidikan
- Jumat, 3 April 2026 | 22:04 WIB
Ilustrasi reforma agraria
Ilustrasi reforma agraria

Negara juga perlu percepat pengakuan wilayah adat lewat skema Perda atau SK Bupati, nggak usah nunggu proses panjang dari Jakarta. Digitalisasi peta partisipatif—libatkan warga mapping tanah mereka sendiri—bisa kurangi tumpang tindih klaim. Dan yang paling penting: libatkan organisasi petani dan masyarakat sipil dalam setiap keputusan agraria, bukan cuma formalitas dengar pendapat.

Intinya, politik agraria kita di ujung tanduk. Mau kejar investasi sambil korbankan rakyat, atau balik ke semangat konstitusi buat keadilan sosial? Tanah harus kembali fungsi sosialnya. Jangan sampai tanah air jadi "tanah modal", rakyat malah pengungsi di negerinya sendiri. Janji kemerdekaan ini harus ditepati sekarang, sebelum konflik lahan jadi bom waktu hancurkan persatuan kita. Karena pada akhirnya, keadilan agraria bukan cuma soal bagi tanah—tapi soal memulihkan martabat manusia yang paling dasar: hak untuk hidup layak di atas bumi sendiri.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Safrudin KP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Politik Agraria: Antara Harapan dan Kenyataan

Rabu, 8 April 2026 | 11:42 WIB

Dinasti Politik sebagai Ancaman Demokrasi Lokal

Selasa, 24 Juni 2025 | 21:55 WIB
X