pendidikan

Viral Aksi Siswa di Purwakarta, Dedi Mulyadi Tolak Skorsing: “Hukuman Harus Membentuk Karakter!

Senin, 20 April 2026 | 11:35 WIB
Viral siswa Purwakarta, Dedi Mulyadi soroti hukuman sekolah. Skorsing dinilai tak efektif, dorong pendidikan karakter lebih manusiawi. (Ilustrasi AI / chatgpt.com)

KLIK PENDIDIKAN - Gelombang kritik publik terhadap dunia pendidikan kembali mencuat setelah video aksi tak pantas seorang siswa di Purwakarta viral di media sosial.

Alih-alih hanya menghukum, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, justru mengingatkan satu hal penting sekolah bukan tempat menghukum, tetapi membentuk karakter.

Peristiwa ini bermula dari beredarnya video seorang siswa SMA di Purwakarta yang memicu reaksi luas masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan peran sekolah dalam mendidik karakter generasi muda.

Baca Juga: Disiplin Ditekankan di Upacara Sekolah, Danramil Beringin: Tanpa Ini, Kepemimpinan Hanya Ilusi

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengaku telah menerima laporan lengkap dari Kepala Dinas Pendidikan terkait kronologi kejadian.

Orang tua siswa yang bersangkutan bahkan telah dipanggil pihak sekolah. Dalam pertemuan itu, orang tua siswa datang dengan penuh penyesalan, meminta maaf, bahkan tak kuasa menahan tangis atas tindakan anaknya.

Pihak sekolah kemudian mengambil langkah tegas dengan memberikan sanksi skorsing selama 19 hari. Namun di sinilah perdebatan muncul.

Apakah skorsing benar-benar solusi? Atau justru hanya memindahkan masalah tanpa menyelesaikan akar persoalan?

Dedi Mulyadi dengan tegas menolak pendekatan hukuman semata.

Baca Juga: 30.000 Koperasi Dibuka, BKN Kawal Rekrutmen Tanpa Titipan: Benarkah Transparan?

“Setiap hukuman yang diberikan pada dasarnya harus untuk pembentukan karakter, bukan sekadar memberi efek jera,” tegasnya.

Ia pun menyarankan agar sanksi yang diberikan lebih bersifat edukatif, seperti membersihkan lingkungan sekolah, toilet, dan area sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Menurutnya, durasi hukuman tidak harus kaku.

“Bisa satu bulan, dua bulan, atau tiga bulan, tergantung perkembangan anak tersebut,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi sekaligus efektif dalam menanamkan nilai disiplin dan tanggung jawab kepada siswa.

Halaman:

Tags

Terkini